Selasa, 03 Mei 2011

Just wanna tell! :D

Hem. . . ak ada 'cerpen' nich!
tapi gatauk mau ak publish dimana.
jadii, ak share Z disinii.
So, Cekdisot! :D


GARA-GARA MIMPI!_

Pagi yang indah, bagi kebanyakan siswa-siswi SMALISKA, jam masuk lebih awal dan jam pulang agak sore adalah rutinitas yang wajar, terutama bagi siswa kelas XII. Jika di saat duduk di bangku kelas X dan XI mereka masuk jam 06.45 WIB dan pulang jam 13.45 WIB, maka ketika mereka duduk di bangku kelas XII mereka harus siap mengikuti segala kemungkinan yang akan terjadi, yaitu dengan jam masuk yang tetap dan jam pulang yang berubah. Mereka harus mengikuti sejumlah bimbel (bimbingan belajar) selama kurang lebih sekitar dua jam. Jadi, mereka akan pulang pada jam 15.30 WIB. Sekolah adalah rumah kedua mereka. Belum lagi jika mereka harus disibukkan dengan kegiatan bimbingan di luar sekolah. Akan tetapi, mau tidak mau hal itu harus mereka lakukan untuk siap menghadapi UNAS 2010/2011 dan mendapatkan peringkat kelulusan no.1 terbaik se-Jatim bagi sekolah mereka (Amin, Ya Allah...)

SMALISKA mempunyai kurang lebih 14 kelas untuk seluruh siswa kelas XII, tiga kelas untuk jurusan IPA; dua kelas untuk jurusan BAHASA; dan sembilan kelas untuk jurusan SOSIAL. Mari kita masuk ke awal cerita! J Bagi kebanyakan siswa XII IPA 02, tugas yang bejibun; materi yang cukup sulit; dan memburu soal ujian seharusnya jadi makanan mereka sehari-hari. Sebagian dari mereka merasa enggan untuk melakukannya, namun lumayan banyak juga yang melakukannya. Tak terkecuali bagi “Rani Kusumaningrum”, siswi tomboy yang cuek dan nggak suka ambil pusing. Dia akan melakukan segala sesuatunya dengan baik, jika hatinya berkata “ya”. Jika dia ingin mengetahui apa yang tidak dia bisa, dia akan bertanya pada yang bersangkutan hingga dia merasa jelas. Namun, siswi yang satu ini lebih banyak berkata “tidak” pada hatinya (NO GIRL! Hehehe... PEACE, Ran!). Hidupnya terdengar agak lebih santai daripada teman-temannya yang lain alias “Take it easy!”, anyway... dia baik, selalu ada untuk teman dan setia kawan walaupun agak bringasan. Dia jago olahraga, sepintas mirip siswa or cowok, tapi mari kita buka mata kita dengan sangat hati-hati. Dia ini cewek woooh... J

Peristiwa tentangnya, akan membuat yang lain sadar arti kekompakan & kesetiakawanan yang sesungguhnya. Ssssstttttt..... XII IPA 02 sedang belajar!!!

“Yakkk, well! Assalamualaikum wr. wb!”, sesosok guru laki-laki masuk di kelas itu. Ini adalah satu bulan siswa-siswi di kelas itu masuk sekolah dan pelajaran mereka sudah mulai FULL, walau pun ini baru semester pertama. It’s ENGLISH time. Guru bahasa Inggris mereka adalah wali kelas mereka sendiri, Mr. Nawawi (Mr. Awi) , begitulah beliau akrab dipanggil. “ Good morning, Class! How are you today?”, beliau melanjutkan kata-katanya.

“Good morning, Sir! Alhamdulillah, i’m fine!”, jawab murid-murid serempak.

“Before we start our lesson today, Saya sebagai guru dan juga sebagai wali kelas kalian ingin bertanya, apa yang sudah kalian siapkan untuk hajat kalian nanti?”

“Nggak ada!!!!!”, jawab Rani paling keras. Yang lain menatap ke arahnya “Lapo, Rek???”, tanyanya. Setelah beberapa saat kemudian yang lain pun berhenti menatap dan Mr. Awi melanjutkan wejangan-wejangannya.

“Sepertinya..............................................”, seluruh siswa mulai tegang, termasuk Rani. Mereka takut wali kelas mereka itu marah untuk yang kedua kalinya setelah beliau marah karena mereka tidak menghiraukan guru yang menerangkan di depan. “Jawabanmu bagus sekali, Nak!!! GOOD JOB!!!”, sontak Mr. Awi dengan sikap lebaynya itu membuat satu kelas terbahak-bahak, bahkan mungkin ada yang melepaskan udara dari duburnya alias kentut. Hahahahaha... :-D

“Jadi begini, Saya cuma mau mengingatkan saja. Usiamu di kelas tiga nggak banyak, Nak! Belum lagi nanti Kamu akan sibuk memikirkan masa depanmu! Belajar! Segera sadar!!! Apa yang kamu nggak bisa itu, cari tahu hingga kamu bisa! Ojok mlaku tapi merem!!! Underwear???”

“Apa, Serrrrrr (Cara mereka mengucapkan “SIR”)???”, jawab para siswa.

“eee... maap!!! Understand???”

“Teeeeeeennnnnnnnnnnn.....”

“Apa maksudnya???”

“Nggak tauuuuuuuuuuuu.........”

“E-a-lah, jare mau understand!!!”, suasana santai tercipta di antara mereka. Mr. Awi menceramahi mereka dua jam tanpa henti. Mereka tidak akan pernah bosan mendengar apa yang beliau ucapkan, karena beliau punya cara tersendiri untuk menyadarkan anak didiknya, “LEBAY STYLE”. Membentuk tutor mata pelajaran, membenahi diri, mencoba terbuka, menghormati orang tua, ingat pada Allah, tidak membiarkan diri jatuh ke lubang yang sama, adalah sedikit dari banyak wejangan yang Mr. Awi berikan pada siswa XII IPA 02. Entah, mereka mengerti atau tidak. Mereka sudah cukup dewasa untuk memilih dan memutuskan.

Yofi Setyavan”, satu dari 14 siswa di XII IPA 02 yang agak stress, konyol, humoris, kadang kurang kerjaan, suka mbolang alias pergi-pergi nggak jelas, dan salah satu siswa yang punya banyak fans cewek karena punya pita suara emas (pinter nyanyi, pokalis! weeeekkkkkk, juhhhhh!!! Hehehe... PEACE, Yop!). Dia ini tipe orang yang paling susah dimengerti jalan pikirannya. Anyway, dia juga baik, seperti Rani. Maklum, mereka sahabat. Orang Jawa bilang, tumbu oleh tutup. Adem lan Ayem. Begitulah XII IPA 02 terbentuk. Mereka berasal dari IPA yang berbeda dulunya dan menjadi satu karena pengacakan kelas demi menyongsong masa depan UNAS 2011. Banyak kejadian yang akan membuat kekeluargaan mereka erat nantinya. Just let it flow! Ada banyak siswa maupun siswi yang akan menjadi tokoh utama di XII IPA 02 ini, tapi untuk edisi kali ini, mari kita munculkan pasangan sahabat paling fenomenal periode 2010-2011 ini terlebih dahulu (KEBIJAKAN PENULIS). J

###

Keesokan harinya di kelas XII IPA 02...

“Heh, arek-arek!!!!!!! PENGUMUMAN!!!!!!!! Onok yang tau HP-e Iqbal a??? Ilang wingi di kelas! Embuh, aku gak tau yoan. Wingi Aku, Muji, Indri, Nurul, Reny ma Laili ngewangi nyari tapi gak ketemu! Ayo, balapan Miskol a??? Hehehe...”, suara cempreng yang bisa bikin orang cumpleng ini adalah milik wakil ketua kelas di IPA 02 (si penulis... :-P), Ummul.

“Yo, Rek! He... rungokno aku! Engkok gak oleh onok sing moleh, Pak Awi mbheg Pak Roziq kate rene.”, lanjut Si ketua kelas, Bagus.

Semuanya terdengar berkasak-kusuk. Begitu pula Si Yopi dan Si Rani. Tapi sejak pagi Yopi kelihatan geram dengan salah satu di antara mereka, yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri, Rani. Entahlah, tak biasanya dia bersikap demikian. Bahkan Anin, Fia, dan Rafin pun merasa ada yang aneh dengannya. Empat jam pelajaran tak terasa. Jam istirahat pun tiba. Iqbal berbicara pada Yazid dan teman-teman yang lain, ”Wingi iku yo, ta’ dekek nang slorokan! Embuh, mari ngunu ta’ tinggal. Aku metu. Pas aku eling, ta’ parani nang kelas. Tiba’e wes gak onok!”,

“Yo, sing sabar ae, Bal! Sopo eruh engkuk ketemu!”, Yazid mencoba menenangkan.

“Wedi diseneni aku, Zid!”

“Wes, gak usah ngunu!”, jawab Laili CS.

Semuanya mencoba mencari, membantu Iqbal. Ternyata tetap saja hasilnya NIHIL. Bahkan setelah P. Roziq dan P. Awi mencoba mengembalikan kondisi kelas seperti semula. Hingga akhirnya semua siswa di kelas itu mencoba untuk melupakan masalah tersebut, termasuk Iqbal. Hari demi hari berlalu, sejak hilangnya HP Iqbal itu, bahkan Iqbal sudah mempunyai HP yang baru. Keadaan kelas masih aman. Selang tiga hari setelah Iqbal berganti HP, uang Fiki, salah seorang siswa yang jago berhitung di kelas mereka hilang. Tak cukup itu saja, bahkan dompet Reny pun hilang. Keadaan menjadi tak normal. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang bersu’udzan satu sama lain.

“Aku ngerti sopo yang ngambil semua barang-barang iku!”, Yopi mengucapkan kata-kata itu dengan keras hingga semua mata tertuju padanya.

“Sopo, Yop?”, tanya seluruh siswa-siswi di kelas itu.

“Tapi jangan kaget yo, Rek! Yang nyolong ta... RANI!!!”, Yopi mengucapkan kata-kata itu dengan nada penuh amarah dan sindiran. Seketika itu, Rani yang mendengar apa yang diucapkan Yopi langsung geram. Dia tidak terima karena dia merasa dia tak pernah melakukan apa pun seperti apa yang dituduhkan padanya.

“Heh........ aku gak tau nyolong ngunu yo!!! Gawe opo? Aku gak usah ngunu ae, Aku wes oleh duit teko Mamaku dewe! Lapo Aku nyolong??? Koncoku dewe pisan sing ta’ colongi! Jahate ae Aku nek ngunu carane! Gak usah nuduh ngunu po’o, Yop!!!”

“Gak usah ngunu, Ran!!! Ceramah dowo pisan! Gak isin a awakmu??? Aku lho duwe buktinya!!!”, seluruh warga kelas itu seakan melihat sebuah sinetron yang sedang mencapai klimaksnya. Untungnya, itu adalah waktu untuk istirahat bukan waktunya pelajaran. Yopi pun mencoba memeriksa tasnya. Dia mengambil Hpnya, lalu kemudian memencet-mencet alat komunikasi itu. Setelah itu, dia menunjukkan video yang didalamnya terdapat gambar sesosok siswi yang merogoh laci bangku masing-masing siswa. Benar, gambar siswi itu adalah Rani. Rani bersikeras mengaku bahwa itu bukan dirinya. “Astaghfirullah... gak!!! Iku bukan aku!!! Aku iku ngerogoh bangku gawe nyari duitku, Rek! Anggite aku gak kehilangan a??? Sumpah, aku gak nyolong!!!”, jawab Rani berusaha meyakinkan.

“Wes ta, Ran! Gak usah ngomong ngunu! Kamu lho mesti ada di tempat kejadian nek ada yang ilang ngunu! Lapo kemarin kamu gak melok pas ada P. Awi mbhek P. Roziq mrene??? Gak melok Bimbel pisan!!!”

“Heh... ojok ngarang, Yop!!!! Aku lho bolos waktu iku! Murni bolos. Aku gak kabur polahe aku sing bersalah. Aku lho memang gak salah. Trus opo’o nek aku bolos??? Bukan urusanmu yoan!!! Kamu bukan mamaku eroh a???”

“Wes... nek nyolong yo nyolong, Ran!!!”, hingga akhirnya adu mulut itu berakhir dengan perkelahian di antara mereka berdua. Rani mendorong Yopi hingga jatuh, Yopi pun membalas melakukan hal yang sama. Begitulah terus-menerus hingga mereka mempraktekkan adegan SMACKDOWN yang ada di TV. Bagus, yang berusaha melerai mereka untuk melakukan tanggung jawabnya sebagai ketua kelas, tak mampu memisahkan dua sahabat yang bersikeras dengan argumen mereka masing-masing. Malah, karena melakukan hal itu, Bagus terkena pukulan salah satu di antara mereka. Kelas lain yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di kelas itu, datang dan memadati kelas tersebut. Seluruh pengurus kelas, mulai dari ketua kelas hingga bendaharanya melakukan siaga satu. Bagus dan Ummul pergi memanggil Mr. Awi; Anin dan Icus berusaha mengusir siswa dari kelas lain yang datang untuk melihat; Putra dan Mifta berusaha melerai dengan bantuan anggota kelas yang lain.

Perkelahian itu berakhir dengan masuknya Yopi dan Rani ke Ruang BP. Setelah keluar dari ruang BP, mereka masuk ke ruang guru untuk menerima wejangan dari wali kelas mereka, Mr. Awi sepulang sekolah. Hari itu adalah hari paling sial mereka.

“Kalian boleh tidak sekolah selama tiga hari! Ini kebijakan sekolah. Sekolah juga akan mengirim surat undangan serta surat pernyataan pada orang tua kalian”, kata Mr. Awi.

“Maksudnya apa, Seeerrrr???”, Yopi dan Rani bertanya di waktu yang bersamaan.

“Kalian di-SKORS!!! Masalah pencurian barang-barang di kelas, seharusnya tidak membuat kalian gaduh seperti tadi. Ya, kalo barang itu memang dicuri, kalo tidak??? Kalian tahu??? Apa yang kalian ributkan sudah sampai ke telinga semua guru dan siswa kelas XII lain yang ada di sekolah ini.”

“Tapi, Sir... bukan saya yang mulai duluan! Tapi Yopi!!!”, Rani berusaha membela diri.

“Nggak, Sir!!! Saya cuma ngasihtau temen2 yang lain kalo saya punya video, bukti kalo Rani yang ngambil! Dia nggak terima kali kalo saya bener dan dia yang salah. Dia duluan yang mulai berkelahinya, Sir!!”, jawab Yopi.

“Nggak, Sir.... bukannya nggak terima, tap... tapi.... saya cuma.....”, Rani mengemukakan argumennya lagi.

“STOP!!! Jika kalian ingin berdebat lagi, bukan di sini tempatnya. Ini sekolah, bukan gedung DPR atau arena SMACKDOWN! Sudah, lebih baik kalian pulang! Skorsing selama tiga hari pasti akan membuat kalian jera.”, Rani dan Yopi pulang setelah wali kelas mereka menyatakan skorsing sebagai hukuman bagi mereka. Sekolah sudah sepi. Hari itu berakhir dengan penuh skandal. J

###

Sesampainya di rumah, Rani dimarahi habis-habisan oleh mamanya, begitu pula Yopi. Mereka mengalami hari yang sulit. SMS turut berduka cita pun banyak berdatangan di HP mereka. Wajah dan badan yang bonyok itu masih belum cukup membuat mereka jera. Mereka masih bisa mejeng di hari pertama mereka di-skors. Mereka bertemu di Royal Plaza, Surabaya. Namun, mereka tak saling menyapa satu sama lain. Sementara itu di sekolah......

“Rek..... ntar pulang sekolah Mr. Awi jange mrene. Mumpung nanti iku kamis, kan ora onok bimbel, jadi awakmu kabeh ojok moleh disek!!!”, Bagus mengumumkan pada semua teman-temannya. Kelas terasa sepi, jika ada salah satu anggota dari kelas yang tidak masuk sekolah, apalagi jika yang tidak masuk itu adalah yang biangnya rame.

Pulang sekolah tiba. Mr. Awi datang ke kelas itu dan berceramah panjang lebar. Tak seharusnya kejadian kehilangan itu membuat keadaan kelas menjadi tak stabil. Hal itu juga dapat mengganggu KBM di kelas. “Semoga ini bisa jadi pelajaran buat kalian. Semoga juga yang sedang di-skors segera sadar. Allah pasti akan kasih jalan buat mereka. Mereka kan raket sih, Rek! Yang kehilangan barangnya juga jangan terlalu dipikir, kita usut bareng. Kita juga kan sudah doa bersama tempo hari. Dan yang merasa mengambil atau menemukan, segera kembalikan pada yang punya. SADAR!!!”, setelah Mr. Awi memberi nasehat, mereka kembali menggelar doa bersama.

Yopi dan Rani kembali ke rumah setelah masing-masing dari mereka merasa lelah berjalan-jalan. Padahal, biasanya mereka menghabiskan waktu bersama ketika liburan tiba, tapi kali ini mereka berjalan masing-masing. Menyapa pun tidak.

“Assalamualaikum...”, Rani masuk ke rumah.

“Waalaikumsalam. Darimana kamu??? Sore baru pulang. Kamu iku di-skors, kobere ae mlaku2!”, tanya Mamanya yang agak marah melihat Rani santai.

“Aku ta’ turu, Ma! Ngantuk!!!”, Rani langsung masuk ke kamar dan tidur.

Sementara itu...

“Assalamualaikum...”, Yopi masuk ke rumah. Rumahnya sepi. Mamanya harus menjaga salon, Papanya juga harus bekerja. Jadi dia sendirian di rumah. Dia berusaha mengecek ke semua tempat. Sepi. Dia pun memutuskan untuk tidur.

Masing-masing dari mereka tak tahu, kejadian aneh pun terjadi. Hujan turun deras. Kilat menyambar. Suara petir terdengar hebat. Angin bergemuruh. Jiwa mereka tertukar. Yopi menjadi Rani, dan Rani menjadi Yopi. Mungkin itu dapat membuat mereka sadar, saling menyalahkan satu sama lain dan su’udzan bukanlah hal yang baik, apalagi jika mereka sampai tidak menyapa satu sama lain.

Keesokan harinya, masing-masing dari mereka terbangun...

Di kamar Rani...

“Hemh... wes awan, Rek!!! Ta’ ngoco, ah...”, Yopi pun berkaca. Sedetik kemudian...... “aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh..... gak mungkin!!!!!!!!!!!!”, Mama Rani datang ke kamar Rani. “Ada apa, Ran???”, tanya Mama Rani. “Hah???? Rani??? Tante, aku....”, jawab Yopi. Dia tak mengetahui bahwa takdirnya akan berubah begitu cepat. Hingga dia sadar, tadi malam tubuhnya seakan tersetrum oleh listrik ribuan volt.

“Sejak kapan kamu manggil Mama iku Tante, Ran???”, tanya Mama Rani heran.

“Ah??? Nggak, Ma! Aku ta’ siram. Aku mau ke rumahe Rani.”

“Opo??? Iki kan sudah rumahmu toh???”

“eee... maksudku... Yopi, Ma! Wes, Ma, metu-o! Aku arep siram.”

“Ta’ ambilno bajumu. Kamu adus-o!”

Yopi pun mandi. “Adduh, Ran... ojok nggarai. Pasti iki kerjaane Rani. Gak mungkin Aku bisa ngene. Gila. Aku kudu pake bra, baju cewek, bahkan CD yo punya Rani??? Adduh... hancur uripku. Badan yo punya Rani. Piye iki??? Awas kamu, Ran!!! Sampe aku ketemu, jadi tempe penyet arek iku. Tapi, aku masih untung. Dia kan tomboy, jadi aku gak perlu ribet”, Yopi marah-marah sendiri di kamar mandi. Mirip orang gila yang baru masuk RSJ. Hahahah... J

Di kamar Yopi...

“Hooo... ammmmmhhh... hemh, enake, Rek... turuku!”, Rani merasa badannya gatal-gatal. Maklum, tubuh Yopi seharian nggak mandi. “Aduh, gatel kabeh ngene, Rek??? Suaraku kok welek ngene???”, Rani semakin bingung. Kondisi kamar yang dia tiduri sangat berbeda dengan kamar miliknya di rumah. Rapi dan bersih. Maklum, kamar Rani berantakan di rumah. Semakin penasaran, dia mencoba keluar rumah. “Busseettt... rasane aku tau kesini. Tapi iki rumahe sopo, yo???”, dia berpikir lama sekali. “Waahhh... Yopi iki. Hah??? Aku nang kamare Yopi. Aduh, aku mari diapakno iki??? Hah??? Gak perawan aku iki engkok!!! Endi Yopi iki????”, Rani mencari Yopi ke seluruh pelosok rumah. Tapi Yopi tidak ada. Tentu saja, karena badannya adalah Yopi, jiwanya saja yang masih tetap Rani.

“Yop... cari apa??? Sinau ae kono!! Skorsmu masih belum selesai.”, Mama Yopi menasehati Rani.

“Opo, Tante???????”, tanya Rani bingung.

“Yop, sejak kapan kamu ngigau??? Iki mamamu!!!”, Mama Yopi ikut bingung

“Aku Rani, Tante.... bukan Yopi. Yopi ten pundi???”

“Adduh, Yop!!! Kamu iki!!! Ayo, ta’ ambilno koco! Kamu iki masih mimpi paling.”, Mama Yopi sambil tersenyum dan mengambilkan kaca. “aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh........... gak mungkin!!!!!!!!!!!!!!!”, Rani menangis. Hahahah, akhirnya dia pun menerima semuanya dengan terpaksa.

“Gak usah kaget. Mama tau nek kamu tambah elek, Yop! Wes, adus!!! Kamu lho mambu gak enak. Semerbak bunga bangkai di kuburan.”, Mama Yopi menyuruh Rani mandi. Rani pun melakukannya.

“Oooo... awas koen, Yop!!! Aku sampe koyok ngene. Huh.... gak adus sedino pisan. Adduh!!!!!!!!!”, sama seperti apa yang dilakukan oleh Yopi, Rani marah-marah sendiri di kamar mandi. Mirip wong gendheng anyaran. J

###

HP Yopi berbunyi. Rani yang bertubuh Yopi pun mengangkatnya.

“Halo...”, itu suara Rani yang sebenarnya adalah Yopi.

“Lapo??? Koen iku Aku dadi koen iki lho!!! Jambret ancen koen iku!”, Rani marah pada Yopi.

“Heh!!! Anggitmu aku gak menderita ta??? Aku kudu pake bra, pake CD-mu. Kamarmu kotor. Merana Aku iki, Ndhul!!!”

“Trus, Kamu jange nyalahno Aku ngunu a??? Ooo... TIDAK BISA!!!!! Aku yo merana. Awakmu gak adus setahun a, hah??? Aku gatel2!!! Kamu eruh a??? Ta’ kiro sing nggowo aku ke rumahmu iku awakmu, Yop! Ta’ kiro wes gak perawan awakku!!! Ooo... stupid iku!!!”, curhat Rani.

“Hahahahahahaha.... Lucu e!!!”, sesaat semua prasangka mereka hilang. Persahabatan memang lebih kuat dari apa pun. Hingga mereka memutuskan untuk bertemu.

Mereka bertemu di alun-alun Sidoarjo...

“Wes, Ran!!! Kamu ngakuo nek kamu yang nyolong. Gak po po, kok! Trus kabeh selesai. Aku balik ke tubuhku, kamu yo balik ke tubuhmu. DEAL a???”, Yopi berwajah Rani memulai pembicaraan.

“Gak, Yop!!! Aku gak salah. Video yang di Hpmu lho bolak-balik ta’ pecicili. Bukan Aku yang ngambil. Pas tepak iku, duitku ilang, onok Pak Simon nang kunu. Lawange lho wes dikancing, jadi Aku minta tolong Pak Simon. Aku gak onok pas P. Awi nang kelas yo gara2 aku bolos. Awakmu gak usah nuduh2 ngunu po’o!”, Rani berwajah Yopi menjawab.

“OK. Bukti’no nek kamu gak salah.”

“Tapi percaya-o Aku disek!!!!”

“OK. Aku percoyo. Ayo, kita dolek’i malinge bareng2.”

“Ayo!!!”

Mereka pun sepakat. Sehari, sisa skors mereka, mereka pakai untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka mencari buku SIAP UNAS, belajar bersama, bermain bersama. Mereka benar-benar baikan. “Ran, kok Aku ngerasa ada yang keluar!!!”, Yopi berbicara saat mereka sedang makan. “Opomu, Yop???”, tanya Rani penasaran.

“Adduh, Ran... wetengku loro!!!”

“Yop sing genah ta-lah. Kamu opo’o!!!”

“Gak eruh aku. Badanmu iki loro-an ta??? Adduh, onok sing metu teko iku-mu!!!”

“BERARTI.....”, Rani berpikir sejenak. Yopi pun mengikuti.

MENS!!!!!”, mereka berteriak bersama. Semua orang pun melihat ke arah mereka. Maklum, mereka makan di sebuah depot langganan mereka.

“Berdiri-o, Yop!!!”, Yopi pun berdiri. “Hah??? Tembus!!!”

“Opo, Ran??? Tembus???? Adduh... ya’opo iki??? Aku gak eruh!”

“Ayo, menyingkir! Engkuk mlaku-o, aku di belakangmu nutupi. Kita mulih nang omahku. Tapi kita tuku pembalut sek!!!”

“Sembarang!!! Hahahah... kaet eruh aku rasane mens!!! Hahahahahahahaha...”, Yopi tertawa terbahak-bahak. Terkadang dia sambil memegangi celananya yang berdarah. “Yeeekkkk... amis, Ran!!!”, Yopi mengeluh.

“Goblok!!! Gitu kok diambu. Yo amis-lah!!!”

“Susahnya jadi perempuan!”. J

###

Minggunya, mereka gunakan untuk beristirahat di rumah masing-masing. Senin pun mereka sekolah. Yopi yang berwajah Rani terlihat agak canggung saat baru masuk ke sekolah. “Woy, Ran!!! Ya’opo??? Enak a, sekolah nang omah???”, tanya Iren, salah seorang dari anggota Geng-nya Rani. “Gak po po! Aku ta’ masuk sek yo???”, jawab Yopi. Begitu pula dengan Rani yang berwajah Yopi. “Bror, ada kabar gembira!!!”, Zainul menghampiri Rani dan merangkulnya. “Gak usah ngrangkul ngunu ta, Nul!!! Bukan muhrim!!!”, jawab Rani. “Jiah... bror, ket kapan kamu ganti kelamin??? Hahahahaha...”, ternyata perkataan Zainul cukup membuat Rani ingat bahwa sekarang dia adalah Yopi.

“Kabar gembira opo, Bror???, tanya Rani berusaha menguasai keadaan. Ada lomba nge-band di luar. Hadiah-e gede. Bisa buat kita makan. Gak usah wedi kalah, yang penting usaha disek.”

“Ah??? Nge-band??? Tapi kan suaraku gak enak.”

“Ngejak guyon!!! Suaramu lho enak, Yop!!! Mumpung saiki sek semester siji!!!”

“eee... OK. OK!!!”, Rani langsung ke tempat Yopi. Dia khawatir. Semua siswa di kelasnya tidak tahu tentang keadaan mereka berdua. “Yop, piye iki??? Zainul ngejak awakmu nyanyi! Aku gak isok. Suaraku gak enak. Pas-pasan.”, jawab Rani. “Gak eruh. Pokok-e kudu isok. Awakmu dadi aku saiki. Aku lho yo terima semua resiko. Buktine aku mens iki.”, jawab Yopi dengan nada kesal. “Yo!”, jawab Rani agak kecewa.

Semua siswa-siswi XII IPA 02 pun senang dengan kembalinya Rani dan Yopi ke sekolah. Apalagi setelah mereka tahu bahwa kedua teman mereka sudah berbaikan. Hari barlalu dengan cepat. Jum’at pun tiba. Rani dan Yopi dapat menjalankan tugas mereka masing-masing dengan baik, tanpa ada seorang pun yang tahu. Pelajaran mulok tiba. Semua siswi menerima pelajaran tata rias, sedangkan siswa menerima pelajaran otomotif. Yopi yang berbadan Rani tentu saja menerima nilai yang baik. Sebagaimana yang kita ketahui, tokoh kita yang satu ini punya Mama yang jago di bidang itu. Padahal, Rani yang sesungguhnya belum tentu bisa! Hehehe...

“Kerjamu bagus, Ran!”, kata Mam I’ic, guru tata rias.

“Ooo... makasih, Mam! Bukan apa2! No what2! Hehehe...”, semua siswi begitu pun Mam I’ic tertawa. Suasana baru pun tercipta.

Sementara itu, di kelas otomotif...

“Weeehhhhh.... dungaren isok, Yop??? Aku ma arek2 ae gak tau teorinya tapi kamu tau.”, tanya Denny.

“Gak, Den! Atiku enak, mangkane aku isok!”

Inilah salah satu bukti nyata dari simbiosis mutualisme dalam pelajaran biologi. Semuanya aman terkendali. Hingga pelajharan seni musik tiba.

“Bussseeeettt.... Ran, suaramu apik ternyata! Gak nyangka Aku!”, Nisa’ berkata pada Rani.

“Gak, Nis. Bukan apa2!”

Sementara itu di sisi yang lain...

“Yop, awakmu loro ta??? Suaramu gak enak ngunu! Pitik jange ngendhog ae suarane luwih enak.”, tanya Rohman keheranan.

“Aku yo gak eruh, Man!”

“Nek ngene carane, ya’opo kamu isok melok lomba???”

“Gak eruh!”

###

Pulang sekolah tiba. Yopi dan Rani berbicara mengenai suara mereka. Hal itu pun memunculkan masalah baru lagi bagi mereka.

“Yop, awakmu ikhlas a gak melok lomba???”, tanya Rani agak ragu.

“Gak. Aku gak ikhlas.”

“Wes, nek ngene carane, awakmu ae sing nyanyi.”

“Kamu iku ya’opo se??? Aku lho Rani saiki.”

“Aku gak isok!!!”, mereka mulai bertengkar lagi. Hingga mereka melihat Pak Simon, tukang kebun sekolah sedang mondar-mandir di kelas sebelah, XI IPA 01 yang awalnya adalah kelas XII IPA 03. Dua kelas itu bertukar tempat. Sama. Sama dengan Yopi dan Rani. Mereka berdua memata-matai Pak Simon. Hingga mereka lihat Pak Simon mengambil salah satu dompet siswa XI IPA 01. Siswa-siswi XI IPA 01 kebetulan sedang ada bimbel dan mereka tengah tidak ada di kelas. Mereka berada di masjid lantai 01. Rani dan Yopi curiga. Rani mengambil HP Yopi yang dibawanya dan mengambil video dari kejadian itu. Setelah semuanya selesai, mereka pulang.

“Ya’opo, Yop??? Bukan Aku kan???”, tanya Rani.

“Yo, Ran! Ternyata orang iku.”

“Ayo, mene dijebak. Aku gak peduli, dia mencemarkan nama baikku.”

“OK!”

Keesokan harinya, masih sperti biasa. Rutinitas. Sekolah. Yopi dan Rani mengikuti pelajaran dengan baik minggu ini. Sabtu pagi itu, Yopi dan Rani memberitahu Bagus dan semua pengurus kelas. Semua anggota kelas pun setuju. Hingga akhirnya, Pak Simon terjebak oleh mereka.

“Sepurane, Ndhuk, Le...”, Pak Simon menangis.

“Lapo Pak Simon nyolong2 ngunu???”, tanya Bagus.

“A..... Ak..... Aku....... Anakku loro, Le! Sakit parah. Dia harus dioperasi. Biayae gak sedikit. Hiks.... hiks.... hiks..... aku gak eruh harus opo! Dia masih kecil. Mungkin bukan anak kandungku. Tapi tetep ae, dia anakku! Ampun!!!”

“Pean bisa sampe polisi lho, Pak!”

“Gak po po, Le... Aku rela. Hiks... hiks...... hiks......... lagipula Aku gak jadi pake semua barang iku lagi, Le! Tadi pagi anakku sudah mati!!! Hiks...... hiks.......... hiks.......”. inna lillahi wa inna ilaihi raji’un... Semuanya terlihat menangis haru, tapi tidak untuk Bagus. Dia berusaha tegas. “Trus lapo pean ngambil duit iku???”, tanya Bagus lagi. “Untuk biaya pemakaman anakku dan biaya RS yang belum lunas.”, Bagus yang sebelumnya mencoba untuk tegas, tak kuasa untuk menahan tangis. L Bagus dan semua pengurus kelas mencari Mr. Awi dan mengatakan yang sebenarnya. Hari itu juga mereka menggalang dana dan memberikannya pada Pak Simon. Mereka juga ikut berta’ziah. Semua guru yang mendengar kabar duka cita itu pun mendatangi rumah Pak Simon dan ikut berbelasungkawa. Akhirnya semuanya terungkap. Tapi keadaan Rani dan Yopi masih saja sama. Belum berubah. Tetap bertukar tempat.

###

Minggu sore, kompetisi nge-band itu pun tiba. Tapi Rani yang berbadan Yopi tetap kekeuh tidak mau ikut. “Koen lho, kenek opo se, Yop??? Suaramu gak po po, baik2 saja!!! Nek kamu ngene terus, ancur nasib kita. Kita wes daftar iki. 100rb iku mahal. Pikirkan iku. Lagipula kita nge-band iki, kalo kita menang, bakal kita pake buat beli buku nanti, kan???”, Rohman berusaha meyakinkan Rani. Tak lama kemudian, Yopi datang. Dia menghampiri Rani dan menariknya keluar.

“Kamu kudu isok dadi Aku. Aku percoyo ma kamu, Ran! Nek kamu wes buka mataku kalo kamu gak nyolong, berarti kali iki kamu isok. Plis, Ran. Kudu isok.”

“Tapi, Yop... iki nyanyi. Dan aku paling gak isok nek nyanyi. Kamu dewe ngerti, kan???”

“Awakmu YOPI!!! Bukan Rani! Wes, gak eruh aku. Mulai saiki kita bukan sahabat lagi. Awakmu egois, Ran! Haruse awakmu terima kabeh resiko! Tapi opo??? Awakmu gak isok. Wes, Aku tak moleh.”, Yopi pergi. Saat itulah, untuk kedua alinya Rani menangis. TULUS. Dari lubuk hatinya yang paling dalam. Untuk sahabatnya, Yopi.

“Bror, ayo! Kita tampil!”, Zainul menghampiri Yopi. Akhirnya Rani mengikuti kemana kakinya melangkah. Dia percaya. Percaya jika dia bisa. Bisa. Bisa menanggung resiko. Seperti apa yang diucapkan oleh Yopi. Dia benar-benar melakukannya. Menyanyi. Hobi Yopi yang sangat dia tahu. Penonton bersorak-sorai. Rani, Zainul, Bagus, Rohman, Putra, Fiki, Iqbal bangga dengan apa yang mereka lakukan di atas panggung saat itu. Siswa XII IPA 02 yang lain pun ikut bangga dengan apa yang telah group band mereka lakukan. Pengumuman pemenang lomba pun tiba...

“Dan juara pertama Band Competition 2010 kali ini adalah....... band yang vokalisnya bernama....... ‘YOFI SETYAVAN’............ Kepada pemenang, harap naik ke atas panggung!!!!”. “Yop, berhasil, Yop!!!!!!!”, kata Zainul. Semuanya merangkul Rani. Mereka bahagia. Tapi, Yopi yang sebenarnya tidak mengetahui keberhasilan Rani saat itu. Dia terlanjur kecewa dengan apa yang dilakukan Rani. Keras kepala. Mereka naik ke atas panggung. Tapi, Rani menangis. L

“Ran....... Ran....... Rani!!!! Ran, ini Mama, Nak!!!!! Ini Mama! Wes sadar toh, kamu???”, Mama Rani menanyai Rani dengan rasa cemas sambil menggoyang-goyangkan badan Rani yang lemas. “Ma, Yopi!”, jawab Rani.

“Yo, Lapo Yopi???”

“Aku Yopi kan, Ma???”

“Kamu iku piye??? Kamu Rani ta-lah! Iki lho ada kaca!”, sambil memberikan kaca pada Rani. “Hah!!!!!!!!!! Alhamdulillah, Aku Rani maneh!!!!!!!”, Rani bahagia.

“Perasaan dari kemarin, kamu iku Rani, Ndhuk! Badanmu pnas dari hari kamis kamu di-skors iku lho! Setelah kamu pulang dari main. Malamnya kamu sakit. Ya, ta’ kompres.”

“Lho??? Aku sakit???”

“Iyo!!!”

“Iki dono opo, Ma???”

“Sekarang hari sabtu!”

“Hah?????????”, semuanya terlihat mengherankan bagi Rani. “Tapi kok Aku di kamar, Ma???”, tanya Rani.

“Kamu kan nek sakit gak parah. Cuma panas tok. Ya, gampang. Tinggal dikompres, engkuk lak waras.”

“e-a-lah... kirain aku dibawa ke RS!”

“LARANG!!!”

“Gubrak!!!”, Rani bergegas berganti baju dan pergi. “Lho, Ran??? Kamu arep nang endi???”, tanya Mamanya. “Ke rumah Yopi, Ma!”, Rani pergi terburu-buru. ###

Hari sudah sore. 16.30 WIB. Rani tiba di rumah Yopi. Dia berniat untuk meminta maaf pada Yopi. Tapi, tampaknya rumah Yopi sepi. Dia mengetuk pintu. Tok... tok... tok...

“Assalamualaikum.....”

“Waalaikumsalam, siapa ya???”, tampak Papa Yopi yang membukakan pintu.

“eee.... maap, Om! Saya, temennya Yopi. Yopinya ada, Om???”

“Oooo... dia di RS, dek! Dia ditemenin Mamanya.”

“Kalo boleh tau, dia sakit apa ya, Om???”

“Badannya panas sejak kamis malam, waktu itu kan hujan. Tiba2 ya dia demam. Kata dokter dia terkena DBD.”

“Masya Allah, Om... di RS mana, Om???”

“Sebentar...”, Papa Yopi mengambil secarik kertas dan menulis alamat lalu memberikannya pada Rani. Setelah mendapat alamat itu, Rani langsung pergi ke RS. Dia bertanya dimana kamar Mawar 07, tempat Yopi diinapkan. Di kamar itu ada semua teman-temannya. Mereka menjenguk Yopi. “Assalamualaikum...”, Rani mengucap salam sambil ngos-ngosan. Semua mata memandanginya.

“Yop... Yop... Sepurane, Yop!!!! Aku minta maap!!!”, Rani meneteskan air mata.

“Lapo, Ran???”, tanya Yopi.

“Yop, Aku njalok sepuro. Haruse, aku gak perlu smackdown ambhek awakmu wingi. Saiki awakmu poleh loro, kan???”

“Gak po po, Ran...”

“Aku bakal mbukti’no nang awakmu nek aku gak salah, Yop...”

“Aku ngerti kok, nek Kamu gak salah. Pak Simon, kan???”

“Pak Simon???”, Rani terheran. Apa yang ada di mimpinya benar-benar terjadi.

“Yo, Ran... Jadi jum’at kemarin Pak Simon ngaku nek dia yang salah. Dia ngunu karena anak-e sakit. Untung, masih sempat dioperasi. Kita semua sudah ikhlas. Lega. Kan kita wes tau nek yang ngambil bukan kamu.”, Anin berusaha menjelaskan.

“Alhamdulillah... Aku bener2 gak salah, Ya Allah... Sepurane, Yop....”

“Aku yang haruse sepuro nang awakmu. Aku salah. Aku wes su’udzan.”

Terharu. Hari itu semuanya berakhir dengan baik. Minggunya, Yopi pulang ke rumah. Happy Ending. Rani pun mengantar Yopi pulang. Mereka duduk di teras depan.

“Yop, ta’ ambilno maem dulu. Kamu di sini ae ma mbak Rani.”, kata Mama Yopi.

“Nggeh, Ma!”, jawab Yopi.

“Awakmu waras temenan, kan???”, tanya Rani.

“He’em. Alhamdulillah, Ran. Tapi...”

“Tapi opo???”

“Aku mimpi nek kita tuker tempat. Aku dadi awakmu, awakmu dadi aku.”

“Kamu yo mimpi ngunu, Yop???”

“Awakmu mimpi iku ta???”

“Iyo! Gak kaop aku nyanyi iku gak isok.”

“Yo. Trus aku dadi banci iku a??? Hahaha...”, mereka berdua tertawa bersama. Tawa mereka membahana. Gara-gara mimpi. Tapi, itu adalah suatu kebetulan yang indah. Dan untungnya, persahabatan mereka baik-baik saja.

Senin, Yopi dan Rani kembali ke sekolah. Semuanya lega. Kini, tak ada lagi sesuatu yang dapat memecah kekompakan kelas itu, XII IPA 02. Yopi dan Rani menceritakan mimpi mereka ke teman-temannya. “Opo??? Jadi gara-gara mimpi???”, terdengar tanya siswa lain pada mereka berdua. Begitulah cara mereka berinteraksi. Semester pertama belum berakhir. Itu baru permulaan. Masih ada UAS dan UNAS yang menanti mereka. Untungnya, setelah kejadian itu, mereka sempat belajar. Belajar mengambil hikmah dari kejadian Yopi dan Rani. Gara-gara mimpi. Pepatah benar, “Guru yang paling baik adalah PENGALAMAN. Dia menjadikan kita dewasa”. So, cobalah untuk memahami apa yang ada di sekelilingmu. Segera sadar dan jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. Belum tentu apa yang kamu alami itu buruk bagimu. Just let it flow!!! :D


THE END



Panjang??? ;p
Kapok ajah dech, buatt yang coba2 baca!!! Hahahah. . . :D

Minggu, 20 April 2008

Tentang Keindahan

Hayooo...

Smuanya kalo denger kata indah, pasti larinya ke pemandangan atau ke bunga, 'n yg laen!!!
Kahlil Gibran aja berkata,

Mereka yg dirugikan & dilukai akan berkata,"Keindahan itu ramah & lembut." Mereka yg penuh gairah berkata,"Ke4indahan adalah segala sesuatu yg perkasa& menakutkan.Laksana prahara dia mengguncang bumi di bawah & langit di atas kita" Mereka yg letih & lelah berkata,"Keindahan adalah bisikan lembut" Semuanya ini telah kututurkan mengenai keindahan.Dan keindahan bukanlah sebuah kebutuhan melainkan suatu kegembiraan yg luar biasa.

Inilah yg kusebut keindahan.

Suatu hari nanti, Aku pengen jadi seorang penulis & Aku pengen ngebuka mata dunia with menyebutkan 'n ngasih tau kepada dunia, apa sich, yg disebut keindahan itu???

Itu cita2ku!! Kalian juga punya suatu cita2 pengen ngerubah tatapan mata dunia, ga'???

Ngapain, sich, kita nyeselin sesuatu yg ga' da gunanya?

Kita tuch, harus belajar bwat hargain apa pun yg kita punya?
Maksudnya?

Kita nich, harus belajar!
Belajar dalam arti yg luas!
Belajar dari pengalaman, menghargai waktu, 'n belajar2 yg laeN!!!


Abis ni kan, UNAS!!!
Kita harus belajar, Donkzz!!!!

Supaya kita lulus, 'n ga' nyesel nantinya!!!

Kayak kata seorang penyair, kayak gini...

Menyesal

Pagiku hilang, sesudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Sekarang petang datang membayang
Badan usiaku sudah tinggi,

Aku lalai di hari pagi,
Beta lengah di masa muda,
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Akh, apa guna kusesalkan,
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yg muda kuharapkan,
Atur barisan di hari pagi
Menuju ke arah padang bakti

O, ya, kita juga harus jadi pinter, lho!!
Go, bwat ortu bangga!!!

Skalian, Aku juga pengen bilang kalo,
"Ilmu yg tidak diamalkan, bagai pohon yg tiada berbuah!"
Artinya, Ilmu yg tidak diajarkan atau ditularkan kepada orang laen, sebenarnya tiada berguna!!!

Makanya, kalo kita tau ttg hidup, kita harus tau maknanya!!!Oce,,,

Rabu, 16 April 2008

Apa sich, yg perlu kita 'Prioritasin' ???

Assalamualaikum...


I'm feeling Happy, cause now I have a website,
Thanks to ALLAH for number one, and number two I want say 'Thanks a lot' to P.Vulkan & P.Idris!!! I can do this From them...
Thank You

Nah, sekarang pasti smuanya gi bingung!!!
Soalnya, postingku judulnya "Apa yg harus kita prioritasin!"
Yg pertama,
Go Study, Don't be lazy!@ Kita kan mo UNAS
Yg pasti, belajar yg giat ja, dulu!
Yg kedua,
Pasti smuanya kalo denger kata 'Cinta', langsung histeris, dech!
Padahal, yg harusnya kita prioritasin kan,
1.Cinta kepada ALLAH
2.Cinta kepada Rasulullah
3.Cinta kepada Orang tua, terutama Ibu yg telah melahirkan kita ke dunia
4.Nah, ini baru Cinta kepada kekasih, tapi dengan waktu & cara yg tepat,kita kan harus belajar yg giat & meraih prestasi sebanyak2nya